Penting P2DB 2013

Segera Lengkapi Syarat P2DB
1. Isi dan kirim data online
2. Kirim bukti transfer via E-mail

(ppdb.smaitaby@gmail.com)

Materi Tes P2DB

1. AKADEMIK
(Mtk, B-Ing, IPA, B-Ind, PAI)
2. QURAN
(Baca tulis dan Hafalan)
3. Tes Kepribadian
(wawancara)

Labels

SAHABAT

Visitor

Tidak Selalu Pintar, Tidak Selalu Benar

Belajar kelompok atau belajar bersama, hampir semua kita pernah melakukannya. Baik saat masih duduk di bangku SD, SMP, SLTA maupun ketika sudah berstatus mahasiswa. Begitu pun yang kini sering dilakukan putriku, Sabila. Bersama beberapa teman sekelasnya, ia belajar kelompok secara bergiliran. Menjelang ujian akhir nasional yang tinggal beberapa bulan, banyak tugas dan latihan yang harus mereka kerjakan. Ini yang mengawali obrolanku dengan Fulan, beberapa hari lalu, usai makan siang. Obrolan singkat yang menggugah kesadaran dan memberiku pelajaran.
“Belajar bersama memang banyak manfaat positifnya walau terkadang jadi ajang keributan.” Komentar Fulan.
“Keributan?” tanyaku, heran.
“Ya, keributan. Seperti yang terjadi di rumah kemarin malam. Seperti biasa, anakku yang nomor dua belajar bersama tiga orang temannya. Malam itu giliran di rumahku. Tiga puluh menit pertama mereka masih serius mengerjakan PR matematika. Tapi keributan mulai muncul ketika salah satu dari mereka mendapati cara pengerjaan temannya yang berbeda, walaupun hasil akhirnya sama. Tak terima dikatakan caranya salah, teman yang diprotes balas memprotes, ngotot bahwa cara yang ia pakai sudah benar. Mereka berdua saling ngotot. Masing-masing kekeuh bahwa cara yang ia pakai adalah satu-satunya cara yang benar.”
“Terus siapa yang mendamaikan? Kamu?” tanyaku penasaran.
“Bukan! Aku hanya mengamati mereka dari teras. Terus terang aku juga penasaran, ingin tahu bagaimana mereka mengatasi masalah ini.” Jawab Fulan, cengengesan. “Melihat kedua temannya terus saja ribut, saling menyalahkan, anakku berinisiatif memanggil Faiz, putra sulungku. Selama ini ia memang bisa diandalkan untuk mengatasi hal-hal semacam ini. Diam-diam aku ikut menyimak bagaimana Faiz menjelaskan pada mereka bahwa soal matematika yang mereka ributkan sebenarnya bisa dikerjakan dengan beberapa cara, dan cara yang mereka pakai dua-duanya benar. Tinggal pilih mana yang lebih mudah.”
“Mereka bisa mengerti?”
“Alhamdulillah! Lima belas menit setelah itu tak terdengar mereka ribut-ribut lagi. Bahkan sesekali dua anak yang tadi berseteru tertawa cekikikan, saling menggoda, jahil. Dan usai mengerjakan PR mereka sempat main game bersama, seakan tak pernah ada keributan sebelumnya. Ah, dasar anak-anak! Hal yang kecil mereka besar-besarkan! Tak tahu kalau dua-duanya benar, hanya karena tak sama, lantas diributkan!” Fulan terkekeh, mengenang kerusuhan kecil di rumahnya malam itu.
“Bukan hanya anak-anak, tapi kita juga!” sergahku.
“Kita?” Fulan menatapku. Hei, kita baru saja kenal beberapa tahun yang lalu, bagaimana mungkin kita pernah belajar bersama, meributkan soal matematika, hal-hal sepele seperti teman-teman anakku? begitu kira-kira arti tatapan matanya.
“Ya, kita!” jawabku santai. “Kita yang sudah berpuluh tahun meninggalkan masa anak-anak, tapi kelakuannya seringkali masih kanak-kanak. Merasa paling pintar, paling benar.”
“Mm…iya juga ya! Tapi bukan kita berdua yang kamu maksud, kan?”
“Kadang-kadang!”
Fulan tertawa, manggut-manggut.
“Yang kamu bilang ada benarnya juga. Sering kita lihat orang berdebat, baik yang mengatasnamakan pribadi atau mewakili kelompok. Awalnya memang terlihat sopan, santun, saling memberikan masukan dan pandangan yang sifatnya membangun. Tapi ketika titik perbedaan mulai terlihat, kalimat berikutnya mulai menghujat. Saling tuding, saling serang. Mengeluarkan pernyataan seolah-olah yang berseberangan pandangan dengannya adalah salah dan rendah, dan pemahamannyalah yang paling benar. Bahkan saling adu otot, adu jotos. Astaghfirullah! Ini bukan hanya terjadi di media massa, tapi juga di sekitar kita. Dan pelakunya bukan lagi anak-anak, tapi mereka yang sudah berkeluarga, sudah beranak pinak. Padahal yang sama itu belum tentu benar, dan yang berbeda belum tentu salah atau lebih rendah.” Panjang lebar Fulan berkomentar.
Aku bergeming ketika Fulan jahil melambai-lambaikan tangan di depan mukaku. Aku tidak sedang melamun, justru aku sedang merenungkan kata-katanya. Ada benarnya juga, bahwa usia bukan jaminan seseorang bisa bersikap dan bertindak secara dewasa. Juga yang tinggi sekolahnya belum jaminan selalu bijak dalam bersikap maupun bertindak. Seringkali justru nafsunya yang berbicara, merasa paling pintar, otomatis pendapatnyalah yang paling benar. Padahal tidak tertutup kemungkinan orang lain yang berbeda dengannya juga benar, atau bahkan sesungguhnya ia tidak lebih pintar dari mereka.
“Kita masuk yuk, sebentar lagi waktu istirahat habis. Kamu nda mau kan si boss nyuruh OB mengantarkan laporanmu ke sini?” ajak si Fulan. Mungkin ia kesal karena dua menit terakhir aku hanya diam, sibuk menyimpulkan apa yang baru saja kami bicarakan.
Ternyata benar, usia bukan jaminan seseorang menjadi dewasa, baik dalam berbicara, bersikap maupun bertindak. Dan jika anak-anak begitu mudah melupakan pertengkaran sebelumnya, orang tua justru sering sebaliknya. Perbedaan pendapat, pandangan dan pemahaman adalah sebuah keniscayaan dan seharusnya kita menghargainya karena kita tidak selalu pintar, dan juga tidak selalu benar. Dalam beberapa hal kita pintar, tapi tidak di segala hal. Dalam beberapa hal kita benar, tapi tidak di setiap hal.


Tawakal Saja Biar Allah yang Menyegerakannya

Ada serumput bahagia menghempas jiwa, ada kesejukan mengalir tenang membasahi hati dalam raga, ada bias-bias cahaya yang terus memancar terang untuk memapah tiap langkah agar dapat berjalan.
Sejenak merenung, ada banyak permohonan yang hampir tak pernah putus terpanjatkan kepadaNya, namun…hingga sekarang belum juga terwujud.
 Ada banyak permintaan yang terucap kepadaNya, namun hingga detik ini belum juga terpenuhi.  Mungkin, saya pernah merasakan lidah yang hampir kelu karena terus bermunajat namun belum juga terijabah, atau kelelahan batin yang begitu meletihkan karena doa yang hampir selalu terucapkan, namun belum juga terjawab.
Sungguh, tiap-tiap bait dalam doa yang terucapkan bagi saya itu adalah energi yang membentuk ketahanan kita dalam menghadapi ujian hidup. Ia adalah senjata, karena dengannya kita mendapat bantuan dari yang Maha Kuat.
Ya…kekuatan iman kita justru akan semakin tampak tatkala kita berupaya sekuat tenaga dan terus menerus memanjatkan doa, namun kita belum juga merasakan perubahan.
Kembali teringat akan sebuah kutipan kata yang begitu membekas dan mengena di hati “Iman seorang mukmin akan tampak di saat ia menghadapi ujian. Di saat ia tetap totalitas dalam berdoa tapi ia belum juga melihat pengaruh apapun dari doanya. Ketika, ia tetap tidak merubah keinginan dan harapannya, meski sebab-sebab berputus asa semakin kuat. Itu semua dilakukan karena ia yakin bahwa hanya Allah saja yang paling tahu apa yang lebih maslahat untuk dirinya.”
Hampir sama kondisinya dengan orang yang menaiki gunung tinggi. Ia dianjurkan untuk tidak terlalu sering melemparkan pandangannya ke atas gunung yang harus ia daki, karena bisa memunculkan ketidakpercayaan diri dan membebani langkahnya untuk terus mendaki. Tapi, ketika ia turun dari tempat yang tinggi, ia juga dianjurkan untuk tidak terlalu sering melihat jauh ke bawah. Karena jauhnya daratan yang ia lihat bisa menimbulkan kelemahan pada jiwa.
Adalah suatu kefitrahan bila kita merasa resah atas tiap bait-bait doa yang belum terjawab. Tawakal saja…bila kita tak pernah berhenti berdoa, dalam tiap kesunyian kita terus mengiba dengan penuh harap dan cemas dalam doa.
Bukankah orang-orang yang memohon dan menginginkan doanya segera terkabul, cepat terwujud adalah bukti dari kelemahan iman?
“Sesungguhnya Allah tidak pernah mengabulkan doa dari hati yang lalai.”
Akhirnya kita masih memiliki sumber kegembiraan sejati yaitu doa yang membuat keimanan kita semakin hari semakin kuat.
Maka sekarang tawakal saja…biar Allah yang menyegerakannya, menyegerakan kita dalam kebaikan yang menghantarkan kita menuju keridhaanNya.
Wallahu’alam Bish Showwab..

Berikan Kesempatan

Di senja itu, kegundahan menghalau dinding-dinding kerinduan. Gelora semangat meraup niatan untuk terus maju. Berbekal tekad yang kuat dan ikhtiar membujuk orang tua, seorang gadis pun berangkat mencari tempat yang dicari. Setiap daerah yang terdapat pesantren ia kunjungi. Setiap ada brosur tentang tahfizh Quran ia kumpulkan. Setiap ada informasi mengenai pesantren tahfizh ia hubungi. Hingga akhirnya, sampailah ia menghubungi salah satu pondok pesantren Tahfidul Quran dari beberapa pondok pesantren yang sudah ia hubungi.

Kala Masa Merangkai Jeda

Oleh: nur indra murti yulizar
“Temani duduk di meja operator yuk de,” ajak umi Aisy.
“Iya Umi,” jawabku.
Duduk di sampingnya terasa teduh, nyaman dan betah berlama-lama. Kata-kata beliau bijak, hal sekecil apapun beliau olah menjadi deretan ilmu, membuatku semakin bersemangat untuk mempelajari Islam lebih syumul.
Rinduku seolah terobati, setelah satu semester tak pernah bertemu kini aku kembali bisa berdiskusi dan bercanda dengan beliau.

INFORMASI SISWA BARU 2013/2014 : Ahad , 14 Juli 2013 Penting !